Bobblehead Bunny

Sabtu, 17 November 2012

11. Metode Analisis : Peringkat Propinsi Dalam Membangun Ekonomi Koperasi Analisis Berdasarkan INDEKS PEKR


REVIEW 11 METODE ANALISIS
PERINGKAT PROPINSI DALAM MEMBANGUN EKONOMI KOPERASI
ANALISIS BERDASARKAN INDEKS PEKR
OLEH  :
Johnny W. Situmorang

II.                  Metode Analisis

Berbagai  metode  dapat  dikembangkan  untuk  menjawab  masalah  yang dikemukakan  di  atas.  Selama  ini,  persoalan  menyangkut  peran  koperasi  lebih  sering dikumandangkan  berdasarkan  analisis  historikal  yang  normatif.  Tulisan  ini  mencoba menampilkan analisis yang  lebih positif dengan menggunakan  fakta empirik menyangkut posisi ekonomi koperasi dikaitkan dengan kemampuan ekonomi regional dimana koperasi itu  berada.  Pendekatan  relatifitas  menjadi  dasar  dalam  analisis  ini.  Untuk  mengetahui performa  propinsi  dalam  pengembangan  ekonomi  koperasi  digunakan  metode  indeks, berdasarkan  Indeks Performa Ekonomi Koperasi Regional (IPEKR) dari sisi regional atau propinsi atau kawasan Indonesia (selanjutnya disebut regional) atau Regional Cooperative Economic Performance Index (RCEPI). IPEKR atau indeks RCEP menjelaskan bagaimana performa  relatif  ekonomi koperasi  secara  regional  (cooperative  economic  size by  region)
atau  ukuran  ekonomi  koperasi  setiap  propinsi  terhadap  relatif  ekonomi  regional  secara
nasional (economic size relative by region).  Secara metodik, IPEKR adalah perbandingan antara  rasio nilai ekonomi atau bisnis koperasi regional dengan nasional yang dinyatakan sebagai ukuran ekonomi koperasi dengan rasio  ekonomi regional propinsi tersebut dengan
nasional.
Pendekatan  analisis  berdasarkan  IPEKR  atau  indeks  RCEP  tersebut  dirumuskan dalam  beberapa  persamaan  berikut  ini. Ukuran  ekonomi  koperasi  regional/propinsi (UEKR)  atau  disebut  juga  sebagai  regional  cooperative  economic  size  (RCES)  adalah sebagai berikut:
Dimana  VUKR  =  volume  usaha  koperasi  regional/propinsi  (Rp  triliun)  dan  VUKN = volume  usaha  koperasi  nasional  (Rp  triliun).  Volume  usaha  koperasi  dipakai  sebagai indikator  ekonomi,  karena  secara  empirik  volume  usaha  mencerminkan  kemampuan koperasi  dalam  bisnis  dan  ekonomi. UEKR  selalu  di  antara  nol  dan  satu  (0<UEKR<1). Semakin  tinggi  UEKR  semakin  besar  ukuran  regional  dalam  pengembangan  ekonomi koperasi relatif terhadap nasional. Ukuran  ekonomi  regional/propinsi  (UER)  atau  disebut juga  sebagai  regional economic size (RES) dirumuskan sebagai berikut:
Dimana  PDRB  =  produk  domestik  regional  bruto  dari  propinsi  dan  PDB  = produk domestik bruto  Indonesia. PDRB merupakan  indikator ekonomi utama  regional dan PDB sebagai  indikator utama perekonomian nasional. Nilai UER adalah di antara nol dan satu (0<UER<1).  Semakin  tinggi UER maka  semakin  besar  pula  kemampuan  atau kapasitas ekonomi propinsi relatif terhadap nasional.

IPEKR  atau RCEPI  dapat  dirumuskan  sebagai  rasio  antara UEKR  dengan UER, yakni:


Dimana UEKR = ukuran ekonomi koperasi regional dan UER = ukuran ekonomi regional. IPEKR berada antara nol dan tak terhingga (IPEKR0).  Bila IPEK<1 maka performa atau rating  regional  rendah,  dengan  kata  lain  pengembangan  ekonomi  koperasi  di  bawah kemampuan ekonomi regionalnya. Bila IPEK>1 maka performa atau rating regional tinggi, atau  dengan  kata  lain  pengembangan  ekonomi  koperasi  di  atas  kemampuan  ekonomi regionalnya. Berdasarkan IPEKR, pemeringkatan daerah dapat dilakukan. Oleh karena itu, peringkat daerah dalam ekonomi koperasi tergantung pada besaran IPEKR tersebut.
Metode  ini  cukup baik  untuk menjelaskan  rating dan peringkat  regional/propinsi dalam pengembangan ekonomi atau bisnis koperasi), dan telah digunakan oleh para analis atau  peneliti  ekonomi  untuk melihat  posisi  berbagai  aspek,  antara  lain  komoditas  dalam ekspor,  negara  dan  propinsi menarik  investasi,  dan  juga  pembangunan wilayah. Untuk mengetahui  dayasaing  pasar  suatu  komoditas  misalnya,  metode  ini  digunakan  dalam perdagangan  luar  negeri.  UNCTAD  (United  Nation  Conference  on  Trade  and Development) menggunakan metode  ini untuk analisis posisi negara-negara menarik FDI dalam the World Investment Report (WIR) setiap tahunnya.  Demikian juga penulis sendiri telah  menggunakannya  dalam  memeringkat  sektor  perekonomian  dan  regional  dalam menarik  investasi  PMDN  dan  PMA.  Pada  tahun  2007,  Kementerian  Negara  KUKM melalui Deputi Bidang  Pengkajian Sumberdaya KUKM  juga mencoba menggunakannya untuk memeringkat propinsi dalam pembangunan KUKM. Dalam pembangunan wilayah, metode ini biasanya digunakan sebagai implementasi  teori lokasi untuk menetukan  lokasi perencanaan wilayah.
Analisis  ini menggunakan  data  sekunder  yang  agregatif  yang  berasal  dari  Badan Pusat  Statistik  (BPS),  dan  Bank  Indonesia  (BI)  yang  tertampil  dalam  website  masing-masing lembaga.  Data PDB dan PDRB adalah masing-masing pendapatan domestik bruto Indonesia  dan  propinsi.  Sedangkan  data  volume  usaha  adalah  nilai  total  volume  usaha koperasi  baik  propinsi  maupun  nasional  pada  tahun  2006.  Seyogianya,  performa  tahun 2007  lebih mutakhir digambarkan dalam  analisis  ini.   Namun data PDRB  tidak  tersedia. Bahkan  untuk    tahun  2006,  sebagian  propinsi  belum mampu menampilkan  data  PDRB. Sehingga  penulis  melakukan  elaborasi  berdasarkan  ukuran  tahun-tahun  sebelumnya dengan  asumsi,  pangsa  propinsi  terhadap  nasional  hampir  tidak  berubah  dalam  jangka pendek.  Dalam  analisis  ini  dimasukkan  juga  bagaimana  perbedaan  performa pengembangan  ekonomi  koperasi  di  Kawasan  Barat  Indonesia  (KBI)  yang  terdiri  dari Pulau Sumatera, Jawa dan  Bali, dan sisanya Kawasan Timur Indonesia (KTI). Pengembangan ekonomi  koperasi  di  Kawasan  Barat  Indonesia  (KBI)  yang  terdiri  dari Pulau Sumatera, Jawa dan  Bali, dan sisanya Kawasan Timur Indonesia (KTI).
                                                     
Sumber                                : http://www.smecda.com/kajian/files/Jurnal_3_2008/04_Johnny_W.pdf

1 komentar:

  1. Kita juga mempunyai jurnal mengenai Media Interaktif, silahkan dihubungi dan dibaca. Berikut linknya:
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/5152/1/JURNAL.pdf
    Semoga bermanfaat!

    BalasHapus