Bobblehead Bunny




Kamis, 06 Agustus 2015

PERKEMBANGAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN – INDONESIA

SAK yang berkualitas merupakan salah satu pedoman pokok untuk menyusun dan menyajikan laporan keuangan bagi perusahaan. Dengan adanya standar akuntansi yang baik, maka laporan keuangan dapat menjadi lebih berguna dan menciptakan transparansi bagi perusahaan. Ikantan Akuntansi Indonesia (IAI) sebagai wadah profesi akuntansi di Indonesia, senantiasa berusaha untuk tanggap terhadap perkembangan yang terjadi, baik dalam lingkup nasional, regional, maupun global, khususnya dalam hal yang mempengaruhi dunia usaha dan profesi akuntansi. Hal ini dapat dilihat dari dinamika kegiatan pengembangan standar akuntansi sejak berdirinya IAI pada tahun 1957 hingga kini. Setidaknya, terdapat tiga tonggak sejarah yang pernah dicapai sebelumnya dalam pengembangan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia:
a.      Periode 1973 – 1984, Ikatan Akuntansi Indonesia  (IAI) telah membentuk Komite Prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia untuk menetapkan standar-standar akuntansi, yang kemudian dikenal dengan prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia (PAI).
b.      Periode 1984 – 1994, komite PAI melakukan revisi secara mendasar PAI 1973 dan kemudian menerbitkan Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 (PAI 1984). Menjelang akhir 1994, Komite standar akuntansi melalui suatu revisi besar atas prinsip-prinsip akuntansi Indonesia dengan mengumumkan pernyataan-pernyataan standar akuntansi tambahan dan menerbitkan interprestasi atas standar tersebut. Revisi tersebut menghasilkan 35 pernyataan standar akuntansi keuangan, yang sebagian besar harmonis dengan IAS yang dikeluarkan oleh IASB.
c.       Periode 1994 – 2004, Ada perubahan Kiblat dari US GAAP ke IFRS, hal ini ditunjukkan Sejak tahun 1994, telah menjadi kebijakan dari Komite Standar Akuntansi Keuangan untuk menggunakan International Accounting Standards sebagai dasar untuk membangun standar akuntansi keuangan Indonesia. Dan pada tahun 1995, IAI melakukan revisi besar untuk menerapkan standar-standar akuntansi baru, yang kebanyakan konsisten dengan IAS. Beberapa standar diadopsi dari US GAAP dan lainnya dibuat sendiri.
d.      Periode 2006 – 2008, Merupakan konvergensi IFRS Tahap 1, Sejak tahun 1995 sampai tahun 2010, buku Standar Akuntansi Keuangan (SAK) terus direvisi secara berkesinambungan, baik berupa penyempurnaan maupun penambahan standar baru. Proses revisi dilakukan sebanyak enam kali yakni pada tanggal 1 Oktober 1995, 1 Juni 1999, 1 April 2002, 1 Oktober 2004, 1 Juni 2006, 1 September 2007, dan versi 1 Juli 2009. Pada tahun 2006 dalam kongres IAI (Cek Lagi nanti) X di Jakarta ditetapkan bahwa konvergensi penuh IFRS akan diselesaikan pada tahun 2008. Target ketika itu adalah taat penuh dengan semua standar IFRS pada tahun 2008. Namun dalam perjalanannya ternyata tidak mudah. Sampai akhir tahun 2008 jumlah IFRS yang diadopsi baru mencapai 10 standar IFRS dari total 33 standar.
e.      Periode 2008 – 2012, IFRS (Internasional Financial Accounting Standard) adalah suatu upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi keuangan. IFRS merupakan standar akuntansi internasional yang diterbitkan oleh International Accounting Standard Board (IASB). Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards/IAS) disusun oleh empat organisasi utama dunia yaitu Badan Standar Akuntansi Internasional (IASB), Komisi Masyarakat Eropa (EC), Organisasi Internasional Pasar Modal (IOSOC), dan Federasi Akuntansi Internasioanal (IFAC).
Natawidnyana(2008), menyatakan bahwa Sebagian besar standar yang menjadi bagian dari IFRS sebelumnya merupakan International Accounting Standards (IAS). IAS diterbitkan antara tahun 1973 sampai dengan 2001 oleh International Accounting Standards Committee (IASC). Pada bulan April 2001, IASB mengadospsi seluruh IAS dan melanjutkan pengembangan standar yang dilakukan.

Sturktur IFRS
International Financial Reporting Standards mencakup:
1.      International Financial Reporting Standards (IFRS) – standar yang diterbitkan setelah tahun 2001.
2.      International Accounting Standards (IAS) – standar yang diterbitkan sebelum tahun 2001.
3.      Interpretations yang diterbitkan oleh International Financial Reporting Interpretations Committee (IFRIC) – setelah tahun 2001.
4.      Interpretations yang diterbitkan oleh Standing Interpretations Committee (SIC) – sebelum tahun 2001.
5.      Framework for the Preparation and Presentation of Financial Statement ( Kerangka Kerja persiapan dan Penyajian laporan Keuangan ).
Secara garis besar ada empat hal pokok yang diatur dalam standar akuntansi. Yang pertama berkaitan dengan definisi elemen laporan keuangan atau informasi lain yang berkaitan. Definisi digunakan dalam standar akuntansi untuk menentukan apakah transaksi tertentu harus dicatat dan dikelompokkan ke dalam aktiva, hutang, modal, pendapatan dan biaya. Yang kedua adalah pengukuran dan penilaian. Pedoman ini digunakan untuk menentukan nilai dari suatu elemen laporan keuangan baik pada saat terjadinya transaksi keuangan maupun pada saat penyajian laporan keuangan (pada tanggal neraca). Hal ketiga yang dimuat dalam standar adalah pengakuan, yaitu kriteria yang digunakan untuk mengakui elemen laporan keuangan sehingga elemen tersebut dapat disajikan dalam laporan keuangan. Yang terakhir adalah penyajian dan pengungkapan laporan keuangan. Komponen keempat ini digunakan untuk menentukan jenis informasi dan bagaimana informasi tersebut disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan. Suatu informasi dapat disajikan dalam badan laporan (Neraca, Laporan Laba/Rugi) atau berupa penjelasan (notes) yang menyertai laporan keuangan.

Konversi ke IFRS di Indonesia
Indonesia saat ini belum mewajibkan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan IFRS melainkan masih mengacu kepada standar akuntansi keuangan lokal. Dewan Pengurus Nasional IAI bersama-sama dengan Dewan Konsultatif SAK dan Dewan SAK merencanakan tahun 2012 akan menerapkan standar akuntansi yang mendekati konvergensi penuh kepada IFRS. Dari data-data di atas kebutuhan Indonesia untuk turut serta melakukan program konverjensi tampaknya sudah menjadi keharusan jika kita tidak ingin tertinggal. Sehingga, dalam perkembangan penyusunan standar akuntansi di Indonesia oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) tidak dapat terlepas dari perkembangan penyusunan standar akuntansi internasional yang dilakukan oleh International Accounting Standards Board (IASB). Standar akuntansi keuangan nasional saat ini sedang dalam proses secara bertahap menuju konverjensi secara penuh dengan International Financial Reporting Standards yang dikeluarkan oleh IASB. Adapun posisi IFRS/IAS yang sudah diadopsi hingga saat ini dan akan diadopsi pada tahun 2009 dan 2010 adalah seperti yang tercantum dalam daftar- daftar berikut ini:
1.       IFRS/IAS yang Telah Diadopsi ke dalam PSAK hingga 31 Desember 2008,
a.        IAS 2 Inventories
b.      IAS 10 Events after balance sheet date
c.       IAS 11 Construction contracts
d.      IAS 16 Property, plant and equipment
e.       IAS 17 Leases
f.       IAS 18 Revenues
g.      IAS 19 Employee benefits
h.      IAS 23 Borrowing costs
i.        IAS 32 Financial instruments: presentation
j.        IAS 39 Financial instruments: recognition and measurement
k.      IAS 40 Investment propert
2.       IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2009
a.       IFRS 2 Share-based payment
b.      IFRS 4 Insurance contracts
c.       IFRS 5 Non-current assets held for sale and discontinued operations
d.      IFRS 6 Exploration for and evaluation of mineral resources
e.       IFRS 7 Financial instruments: disclosures
f.       IAS 1 Presentation of financial statements
g.      IAS 27 Consolidated and separate financial statements
h.      IAS 28 Investments in associates
i.        IFRS 3 Business combination
j.        IFRS 8 Segment reporting
k.      IAS 8 Accounting policies, changes in accounting estimates and errors
l.        IAS 12 Income taxes
m.    IAS 21 The effects of changes in foreign exchange rates
n.      IAS 26 Accounting and reporting by retirement benefit plans
o.      IAS 31 Interests in joint ventures
p.      IAS 36 Impairment of assets
q.      IAS 37 Provisions, contingent liabilities and contingent assets
r.        IAS 38 Intangible assets
3.       IFRS/IAS yang Akan Diadopsi ke dalam PSAK pada Tahun 2010
a.       IAS 7 Cash flow statements
b.      IAS 20 Accounting for government grants and disclosure of government assistance
c.       IAS 24 Related party disclosures
d.      IAS 29 Financial reporting in hyperinflationary economies
e.       IAS 33 Earning per share
f.       IAS 34 Interim financial reporting
Indonesia harus mengadopsi standar akuntansi internasional (International Accounting Standard/IAS) untuk memudahkan perusahaan asing yang akan menjual saham di negara ini atau sebaliknya. Namun demikian, untuk mengadopsi standar internasional itu bukan perkara mudah karena memerlukan pemahaman dan biaya sosialisasi yang mahal. Membahas tentang IAS saat ini lembaga-lembaga yang aktif dalam usaha harmonisasi standar akuntansi ini antara lain adalah IASC (International Accounting Standard Committee), Perserikatan Bangsa-Bangsa dan OECD (Organization for Economic Cooperation and Development). Beberapa pihak yang diuntungkan dengan adanya harmonisasi ini adalah perusahaan-perusahaan multinasional, kantor akuntan internasional, organisasi perdagangan, serta IOSCO (International Organization of Securities Commissions).
           
Penetapan IFRS di Indonesia
 Menurut Sri Mulyani, konvergensi akuntansi Indonesia ke IFRS perlu di dukung agar Indonesia mendapatkan pengakuan maksimal dari komunitas internasional yang sudah lama menganut standar ini. “kalau standar itu dibutuhkan dan akan meningkatkan posisi indonesia sebagai negara yang bisa dipercaya di dunia dengan tata kelola dan pertanggungjawaban kepada rakyat dengan lebih baik dan konsisten, tentu itu perlu dilakukan” ujarnya.
Menurut Rudy Suryanto, SE, M.Acc, AKT (dosen program studi akuntansi UMY). Sebenarnya penerapan IFRS di indonesia telah di mulai secara bertahap sejak tahun 2007, namunakan diterapkan penuh tahun 2012.
Saat standard internasional tidak berbeda dengan standard nasional, maka tidak akan ada masalah. Yang menjadi masalah, apabila standard internasional berbeda dengan standard nasional. Bila hal ini terjadi, maka yang didahulukan adalah standard nasional (rujukan pertama). Banyak pro dan kontra dalam penerapan standard internasional, namun seiring waktu Standard internasional telah bergerak maju.
Dengan pengadopsian IFRS memang diperuntukkan sebagai contoh bahwa dalam hidup kita memang mengalami perubahan, dan perubahan ini terjadi akibat adanya perkembangan dari segala aspek. Namun dalam mengadopsi IFRS , sayangnya masih terdapat pihak-pihak yang mungkin menentangnya, contoh alasannya adalah pemahaman yang mungkin masih dirasa kurang. Mengapa tidak, IFRS ini dalam penjelasannya masih menggunakan bahasa Inggris yang berarti kita harus menerjemahkannya kedalam bahasa yang sesuai dengan Negara yang akan menganutnya. Dengan ini, permasalahannya adalah kita memerlukan banyak waktu untuk menerjemahkan. Serta anggapan bahwa dengan pengubahan ini menimbulkan biaya yang lumayan besar, karena inilah pengadopsian IFRS di Indonesia belum berjalan.

Referensi :


Selasa, 05 Mei 2015

GLOBAL VS REGIONAL PADA PEMASARAN ASURANSI

Babak baru formasi sosial dunia atau era pasar bebas atau yang biasa disebut dengan era globalisasi sering didengungkan oleh para pemerhati ekonomi, politik dan teknologi sejak beberapa dekade lalu, tepatnya sekitar tahun delapan puluhan hingga sekarang ini. Pemunculannya sangat berkaitan erat dengan 3 peristiwa besar yang masing-masing mewakili unsur ekonomi, politik dan teknologi.
Ketiga peristiwa itu adalah:
1.      Unsur politik: berupa berakhirnya perang dingin antara Timur – yang dalam hal ini diwakili oleh Uni Soviet – dan Barat – yang dalam hal ini diwakili oleh Amerika. Tentu saja dengan “kekalahan” di pihak Uni Soviet yang belakangan harus rela membiarkan wilayahnya tercabik dan melepaskan diri satu persatu.
2.      Umur teknolgi: yang terwujud dalam revolusi, dimana dunia menyaksikan ledakan yang luar biasa dalam bidang telekomunikasi dan arus perpindahan informasi yang tak terkendali dari satu tempat ke tempat yang lain.
3.      Unsur ekonomi: barupa lahirnya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) pada tahun 1995 yang kemudian menjadi bibit persemaian awal ide pasar dan perdagangan bebas diantara semua negara.
Di zaman sekarang ini, disaat kita- setidaknya secara kasat mata tidak lagi melihat bentuk-bentuk imperialisme klasik (penjajahan) atas bangsa lain, gelombang globalisasi dengan dukungan perkembangan telekomunikasi dan transportasi yang berkembang nyaris setiap detik, justru menjelma menjadi fenomena yang tak mungkin lagi terbendung. Kita nampaknya tidak mempunyai pilihan lain selain turut serta menjadi “pemain” dalam arusnya yang sangat kuat.
Saat ini dunia bisnis termasuk asuransi menghadapi tiga tantangan sekaligus peluang yaitu: globalisasi, kemajuan, teknologi dan deregulasi. Ditengah arus globalisasi untuk menjadi positig yang bisa mendatangkan keuntungan, tidak bisa hanya menjual atau menghasilkan suatu jasa tetapi juga memberikan layanan atau service bagi pelanggan. Pelayanan ini sangat variatif karena di era perdagangan bebas ini pelayanan untuk pelanggan merupakan poin nilai yang sangat penting yang akan membedakan dengan produk kompetitor lain. Sehingga dibutuhkan konsep dan stratefi pemasaran yang tepat untuk masa kini dan yang akan datang.
Kegiatan pemasaran asuransi merupakan salah satu pilar utama dan sebagai ujung tombak dalam bisnis asuransi baik asuransi kerugian maupun asuransi jiwa. Tingkat persaingan yang semakin ketat dan keras di bisnis asuransi sehingga diperlukan jaringan kerja yang luas, tenaga pemasaran yang tangguh dan perlu didukung dengan database nasabah dan calon nasabah yang terintegrasi dalam rangka menyususn stratefi pemasaran yang handal.
Strategi pemasaran produk asuransi adalah sama dengan anda menawarkan produk yang bersifat maya atau tidak tampak, seperti: produk dana pasar uang, produk obligasi dan produk saham. Karena asset tidak berwuud ini sama-sama memiliki kekurangan yakni besaran nilai uang yang tidak bisa diprediksi secara konsisten dimasa yang akan datang. Inilah yang menyebabkan marketing asuransi tidak bisa menggunakan teknik pemasaran dalam melakukan penjualan produk-produk diatas termasuk produk asuransi. Strategi timbul karena adanya sasaran yang akan dicapai. Sehingga haruslah dibuat dahulu sasaran setelah itu dirancang strategi dan policy yang harus dibuat sebagai alat kontrol agar implikasi tidak keluar dari jalur sasaran yang telah ditetapkan.
Dalam kegiatan pemasaran dikenal konsep 4P yaitu Product, Price, Placement and Promotion. Konsep ini selalu digunakan oleh pelaku bisnis baik yang baru memulai usaha maupun yang sedang mengembangkan usahanya.
a.       Product
Menentukan produk/jasa yang akan ditawarkan ke pasar umumnya menjadi langkah paling awal. Ide mengenai produk bisa didapatkan dari beberapa sumber. Cara termudah adalah dengan membandingkan langsung produk sejenis seperti yang ingin dijual, dan melakukan riset ke target pasar mengenai kelebihan dan kekurangan dari produk tersebut. Hasil dari riset tersebut diharapkan memberikan informasi yang lebih akurat mengenai prospek pasar yang akan dimasukinya dan produk macam mana yang diharapkan oleh target pasar,
b.      Price
Menentukan harga produk tidak semudah yang dibayangkan. Cara umum yang digunakan adalah dengan menggunakan patokan hitungan biaya produk tersebut dari awal disiapkan hingga siap jual. Setiap produk memiliki berbagai komponen biayannya sendiri, dari awal produksi hingga produk tersebut dipajang di rak-rak display penjualan. Menentukan harga berdasarkan biaya dilakukan dengan menambahkan presentase margin tertentu ke biaya produk, dan presentase tersebut dianggap sebagai keuntungan. Persentase didapatkan sesuai dengan rata-rata margin di pasaran. Menggunakan metode ini memiliki kelemahan sendiri. Produk akan mengalami krisis keunikan dimana keunikan yang memiliki daya pembeda produk dari saingannya luput diperhitungkan. Keunikan justru mampu membantu produk agar memiliki harga premium di pasar.
c.       Placement
Tidak kalah penting adalah mengenai dimana produk tersebut yang akan ditawarkan mudah ditemukan oleh target pasar yang dituju. Pada beberapa industri, misalnya ritel atau restoran, maslaah penempatan berarti sangat penting. Ungkapan “Lokasi, lokasi, lokasi” sebainya sangat diperhatikan oleh wirausaha, karena bisa jadi pemilihan lokasi tempat usaha yang buruk dapat berakibat langsung kepada kegagalan dari usaha yang dijalankan.
d.      Promotion
Aspek penting lainnya adalah mengenai promosi dari produk. Bagaiman suatu produk akan dikenalkan ke pasar agar pelanggan tergerak untuk membelinya. Salah satu cara berpromosi efektif adalah dengan beriklan. Bagi wirausaha yang baru memulai bisnis, iklan dilakukan dengan mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi-nya. Untuk mendapatkan efektivitas berikan sebaikna dilakukan pemilihan media iklan yang benar-benar cocok dengan karakter target pasar dari produk. Mungkin tidak diperlukan untuk memasang iklan di segala media/tempat karena belum tentu berpengaruh kepada peningkatan penjualan. Selain itu pemasangan iklan juga berhubungan dengn biaya yang dikeluarkan. Pada tahap-tahap awal memulai bisnis, sebaiknya masalah biaya mendapat perhatian khusus agar tidak menjadi ganjalan dalam operasional usaha. Tentukan juga tujuan dari promosi, apakah untuk menciptakan kesadaran merek atau dimaksudkan untuk meningkatkan penjualan. Jangan lupa untuk mengukur hasil dari setiap kegiatan promosi yang dilakukan, apakah sesuai dengan harapan atau masih perlu perbaikan untuk kegiatan promosi berikutnya.
Pada bidang asuransi kini juga dibutuhkan perkembangan regional dan globalisasi. Dahulu asuransi jarang diminati oleh masyarakat, hanya beberapa orang dan golongan tertentu yang mempercayai fungsi dari asuransi tersebut, serta belum banyaknya macam perlindungan asuransi yang dapat dijaminkan seperti saat ini. Dengan semakin berkembangnya zaman, secara tidak langsung bidang asuransi juga mengglobalisasi. Untuk dapat mempertahankan keeksistensiannya dan membuat masyarakat sadar akan pentingnya asuransi maka perusahaan mengikuti perkembangan zaman dengan siste regional dan globalisasi berjalan secara bersamaan.
Berikut ini adalah sasaran, strategi dan kebijakanyang bisa dilakukan sebagian bagian dari strategi pemasaran asuransi jiwa.
a.       Strategi pertama: tercapainya target penerimaan premi New Business (NB)
·           Pencapaian target NB dengan mempertahankan penguasaan akses segmen pasar mikro eksisting dan meningkatkan jumlah pemegang polis dan meningkatkan jumlah agen dari segmen pasar middle dan middle up.
·           Mengupayakan pencairan cadangan prospek premi NB PK yang sudah dalam taraf negosiasi dengan calon pemegang kontrak untuk prospek.
·           Memperluas akses pengelolaan pasar Non BUMN dan Umum untuk meningkatkan jumlah nasabah employee benefit plan karyawan Non BUMN dan pasar umum untuk proteksi dengan menambah jumlah tenaga pemasar pertanggungan Kumpulan dari distribusi Branch Office System dan saluran lainnya.
·           Meningkatkan penjualan repeat bussines untuk peningkatan premi NB PK dari kenaikan premi employee benefit plan dan menawarkan perluasan jaminan manfaat dari nasabaah PK eksisting. Kebijakan yang dilakukan meliputi:
-          Membuka akses pasar midle dan middle up oleh manajer pemasaran untuk meningkatkan perolehan penjualan agen di pasar middle dan middle up.
-          Merekrut afen khusus/potensial untuk pasar middle dan middle up.
-          Optimalisasi eksisting customer melalui repeat business program.
-          Merekrut agen PK untuk mengakses pasar Non BUMN
b.      Sasaran kedua: produk dan layanann yang kompetitif dengan komposisi target penjualan berdasarkan produk.
Strateginya meliputi:
·           Mereposisi marketing mix dari sisi produk dari dominasi produk tradisional ke produk Saving Plan. Unit Link dan proteksi disamping produk tradisional yang profitable.
·           Meningkatkan nilai tambah produk dari fitur benefit PP dan PK. Kebijakan yang dilakukan dengan tersedianya roduk dan fokus target penjualan produk:
-          Unit link, untuk nasabah perorangan menengah dan menengah keatas.
-          Saving Plan , untuk nasabah kumpulan.
-          Proteksi, untuk nasabah debitur bank, lembaga pembiayaan, anggota koperasi dan proteksi keluarga masyarakat umum.
-          Tradisional, untuk nasabah menengah kebawah yang menghendaki bunga garansi dan proteksi dengan penambahan perluasan manfaat rider.
c.       Sasaran ketiga: pengembangan produk jasa ASO (Administrasi Service Only) sebagai diversifikasi fee base income perusahaan
Strategi yang perlu dilakukan adalah dengan menawarkan produk jasa layanan ASO kepada perusahaan dan yayasan kesehatan yang menyediakan jaminan kesehatan karyawan dan pensiunan. Sedangkan kebijaknnya dengan optimalisasi program ASO untuk penetrasi pasar PK program kesehatan yang tidak mau membeli produk asuransi kesehatan.
d.      Sasaran Keempat: Tersedianya produk competitive dan profitable bagi pemegang polis dan perusahaan
Strategi pencapaiannya melalui pengembangan produk mengacu pada data atau hasil riset serta kebutuhan pasar untuk membantu penetrasi dan bersaing dengan produk kompetitor. Sedangkan kebijakan yang dilakukan melakukan riset pemasaran dalam rangka pengembangan produk antara lain:
·           Profil sasaran pasar yang menjadi target penjualan
·           Besaran jumlah penjualan produk
·           Komparasi dengan produk pesaing
·           Kekuatan dan kelemahan pesaing pada profile pasar yang akan dimasuki
·           Minimal melalui riset tersebut dapat dibuat produk baru
e.       Sasaran Kelima: Peningkatan corporate dan Brand/product Image di mata masyarakat dan khususnya customer
Strategi melalui promosi tepat sasaran, efisien dari sisi biaya dan efektif dari sisi komunikasi penjualan untuk meningkatkan loyalty, persistensi customer serta peningkatan customer baru. Kebijakan yang dilakukan:
·           Program promosi above the line dan below the line disesuaikan dengan segmentasi produk, saluran distribusi dan customer.
·           Program Product & Corporate Campaign kepada masyarakat umum
Tehnik pemasaran dapat dilakukan melalui promosi meliputi iklan, kegiatan (sponsorship), penyiaran (publikasi), dan pendekatan secara individual serta pendekatan institusional (public relation). Hal ini berkaitan erat dengan sumber bisnis yang akan dieksplorasi antara lain bisnis dari captive market untuk perusahaan asuransi yang memiliki Group Perusahaan, bisnis dari perbankan, bisnis dari institusi pemerintah atau asosiasi terkait dan bisnis secara individu/perorangan.
f.       Sasaran Keenam: Restrukturisasi dan Reorganisasi
Strateginya meliputi revitalisasi dan restrukturisasi Saluran Distribusi Pemasaran Branch Office System (BOS) existing dan pembentukan perluasan sistem distribusi pemasaran produk melalui Bancassurance, General Agency System, sinerji aliansi, dan Telemarketing. Kebijakan yang dilakukan adalah melakukan Reposisi kantor BOS dengan melanjutkan restrukturisasi yang dimulai dari tingkat Area Office dilanjutkan ke Tingkat Branch Office dan Regional Office. Tenaga marketing perusahaan diberikan target produksi premi secara individu dan target group. Untuk mencapai target yang telah ditentukan tenaga marketing biasanya bekerjasama dengan agen sebagai downline, dan membina kerjasama dengan broker asuransi. Dalam pengelolaannya agar tidak saling berbenturan antar sesama tenaga marketing maka dilakukan pembagian wilayah area pemasaran sehingga diharapkan pelayanan kepada nasabah dapat menjadi efektif dan efisien. Evaluasi pencapaian target dilakukan secara periodik yaitu mingguan, bulanan dan semesteran.
g.      Sasaran Ketujuh: Pengembangan dan pembentukan saluran distribusi alternatif
Strateginya dengan memperluas saluran distribusi pemasaran alternatif untuk efisiensi dan efektivitas pengelolaan segmen pasar asuransi yang beragam. Kebijakan yang dilakukan adalah dengan melakukan pengembangan dan penambahan Distribusi selain Branch Office System. Jalur distribusi pemasaran juga merupakan faktor penting dalam bisnis asuransi. Pemasaran produk asuransi dapat dilakukan melalui jalur langsung oleh tenaga marketing perusahaan (account officer), dan memanfaatkan jalur tidak langsung yaitu melalui agen dan broker asuransi. Agen asuransi umumnya melakukan penjualan secara retail bisnis, sedangkan broker asuransi umumnya melakukan penjualan secara corporate bisnis dan untuk risiko-risiko yang bersifat kompleks dengan nilai pertanggungan cukup besar. Selain itu kita harus meningkatkan daya saing dan mengetahui posisi kita yang sebenarnya di segmen pasar yang lebih luas: regional dan internasional.


Sumber :
http://ratmodjo.blogspot.com/2012/12/konsep-pemasaran-asuransi-terkini.html